Sejarah
Desa Salo Palai

SEJARAH DESA SALO PALAI

 

Desa Salo Palai awal  terbukanya sekitar tahun 1918 yang dipimpin oleh Petinggi Salo Api, yakni Bapak Abd. Samad Pada waktu itu masih bernama     “Salo Api”, karena daerah yang paling pertama dibuka. Dan yang membuka pertama kali adalah orang-orang tua yang berasal dari Sulawesi Selatan, karena ditemukannya ada anak sungai kecil menuju kedataran yang lebih tinggi.

Pemberian nama Salo Api berasal dari kata “Salo” dalam bahasa suku Bugis berarti “sungai kecil”, dan kata “Api” diambil atas dasar di daerah muara sungai banyak tumbuh pohon yang apabila pada malam hari akan ditempati oleh “kunang-kunang”, dan akan terlihat seperti berapi-api. Maka ditetapkanlah namanya menjadi Salo Api, dan pemimpin pada saat itu adalah petinggi kampong Salo Api, distrik Samarinda Seberang.

Untuk kelangsungan hidup masyarakat kedepannya, maka yang di upayakan adalah tanaman Kelapa Dalam Dimana setiap  dua sampai  enam baris pohon kelapa, dibuatkan parit kecil agar pengangkutan hasil pada saat panen menuju tempat pengumpulan atau pabrik minyak kelapa menjadi lebih mudah lewat parit kecil tersebut pada saat air laut pasang tinggi.

 Seiring dengan berjalannya waktu, maka pertumbuhan keluarga yang bertambah dan pembukaan hutan juga semakin luas.  Selain tanaman Kelapa Dalam ini yang cukup berhasil, masyarakat juga berupaya membuka hutan di dataran yang agak tinggi, kemudian di upayakan juga menanam Merica atau sahang, mengingat potensi hasil hutan pada saat itu, terutama kayu ulinnya, maka selain untuk tongkat atau turus tanaman merica ini juga di upayakan membuat sirap untuk dijadikan atap rumah, dan produksinya dipasarkan sampai ke kota Samarinda Seberang.

 Dengan perkembangan tanaman Kelapa Dalam dan Merica yang sangat baik, maka juga di upayakan membuka lahan pertanian dan menanam padi agar kebutuhan pangan masyarakat bias terpenuhi tanpa mengharap beras dari luar sebagai makanan pokok.

 Sekitar tahun 1942 masa penjajahan Jepang, rumah-rumah masyarakat yang berada di pinggir jalan setapak habis dibakar oleh tentara Jepang, terkecuali sebuah rumah ibadah yaitu Mesjid Al Khairat yang tidak “dimakan” api, walaupun beberapa kali diupayakan untuk membakarnya.

 Kemudian, pada masa itu Pemimpin Kampong masih disebut Petinggi Kampong, dan pemilihannya dilakukan atas dasar musyawarah para orang tua. Yang terpilih merupakan orang terbaik diantara mereka, yang dianggap bias menjadi panutan dan berjiwa social tinggi. Kampong Salo Api ini masih mengikut pada Distrik Samarinda Seberang hingga tahun 1960, dan telah berganti Petinggi sebanyak 7 (tujuh) kali. Pada tahun 1961, kedudukan pemimpin (Petinggi Kampong) berpindah dari Salo Api ke kampung Salo Palai, yang letaknya kurang-lebih 2 (dua) KM sebelah selatan. Dan kampong Salo Palai sudah di bawah Kecamatan Anggana.

 Nama Kampong Salo Palai sendiri ditetapkan atas dasar, “Salo” yang berarti “sungai kecil”, dan “Palai” adalah Pohon Kayu yang paling banyak tumbuh di daerah ini. Dimana pohon tersebut banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Batang kayu Pohon Palai ini digunakan untuk membuat perahu karena batangnya sedikit lunak dan ringan. Kemudian kulit batangnya digunakan sebagi obat penyakit  Malaria, dengan cara direndam dalam air panas.

 Dengan kurang tersentuhnya perhatian dan bantuan Pemerintah pada masa itu, maka segala sarana dan prasarana serta fasilitas yang dibutuhkan sangat sulit diperoleh. Namun, dengan kerja keras dan sistem gotong-royong yang tinggi dari masyarakat, maka sedikit demi sedikit sarana dan prasarana yang dibutuhkan seperti ; Jalan dan Jembatan, Rumah Ibadah, sarana pendidikan, dan lain sebagainya bias terbangun atas upaya swadaya masyarakat tanpa ada bantuan dari pihak Pemerintah.

 Namun untuk pemasaran buah dan minyak kelapa ke Samarinda, masih menggunakan perahu dayung yang memakan waktu tempuh perjalanan 2 hari 2 malam. Dan dari hasil penjualan tersebut, kemudian di belanjakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Lalu mendayung kembali selama 2 hari 2 malam. Demikian keadaan ini berlangsung cukup lama.

 Keadaan yang paling sakit dan susah apabila pada bulan suci Ramadhan, pada saat awal puasa dan hari lebaran, karena tidak ada komunikasi yang bias terhubung. Jadi sebelum hari lebaran, beberapa orang harus mendayung kesamarinda untuk mendapatkan informasi. Apabila didapati di Samarinda sudah melaksanakan Hari Lebaran, maka mereka langsung buka puasa dan mendayung kembali, kemudian besoknya barumerayakan Hari Lebaran. Demikian keadaan ini juga berlangsung cukup lama.

 Setelah adanya alat komunikasi radio yang dijual, maka salah satu tokoh masyarakat yang mampu, membeli alat komunikasi radio tersebut. Diawali dengan adanya alat komunikasi media tersebut maka merupakan suatu anugrah yang sangat langka, karena apabila dimalam hari maka berkumpullah beberapa masyarakat untuk selalu mendengarkan berita dan hiburan.

 Sebelum menjadi Desa Difinitif, Kampong Salo Palai sudah dipimpin beberapa orang tokoh masyarakat yang dianggap mampu baik akhlaknya. Pada saat itu belum ada aturan baku yang dipedomani selain aturan agama, karena masyarakatnya 100% ber–agama islam. Maka, aturan yang dipakai adalah kebiasaan turun-temurun yang sesuai ajaran agama islam. Untuk memilih dan menetapkan petugas di kampong, dengan cara salah satu orang tua tokoh agama akan melakukan penanaman padi di sawah beberapa pohon untuk atas nama masing-masing beberapa orang yang dicalonkan. Setelah tumbuh berbuah, akan dilihatlah tanaman padi tersebut atas nama siapa yang paling baik hasilnya maka dialah yang akan diangkat sebagai petugas, apakah sebagai kepala kampong maupun petugas keamanan.

 Sejak mulai masuknya Perusahaan Migas tahun 70-an ke Muara Badak, saat itulah pola pikir masyarakat berubah, karena sebagian masyarakat yang mendapatkan ganti rugi tanahnya, langsung meninggalkan kampong kelahirannya dan mengadu nasib ke tempat yang lebih ramai.

 Pohon kelapa yang dulu sebagai idola dan tumpuan hidup hanya bias bertahan sampai tahun 80-an, karena sejak masuknya Perusahaan Migas ini maka buah kelapa mulai kurang baik dan selalu berkurang, sehingga masyarakat pemilik mulai beralih usaha. Masyarakat yang bertahan di kampong awal ini hanya beberapa puluh kepala keluarga dan kehidupan ekonomi mulai menurun karena tidak ada lagi buah kelapa yang ditunggu hasilnya.

 Kemudian bebrapa kepala keluarga pula yang berpindah tempat lebih keatas ke daerah perbukitan dan kampong yang baru di buka tersebut diberi nama Salo Elai, karena selain tujuan pokok menanams ahang/merica ini, masing-masing kepala keluarga berusaha menanam pohon buah. Buah yang terbanyak ditanam oleh masing-masing kepala keluarga ini adalah buah Lai, maka sepakatlah membuat nama daerah lingkungan itu Salo Elai.

 Sekitar tahun 1978, Kampong Salo Palai ini baru menjadi Desa Difinitif Kecamatan Anggana yang dipimpin oleh Kepala Desa Pertama yakni Bapak Ismid Sabrie yang sebelumnya sudah menjadi kepala kampong sejak tahun 1968. Beliau memimpin Kampong SaloPalai ini sampai tahun 1998 karena meninggal dunia. Setelah berakhirnya jabatan almarhum, maka langsung diambil alih Sekertaris Desa yakni Muh. Japar, AR sampai tahun 2001.

 Tahun demi tahun berganti, Desa Salo Palai semakin tertinggal disegala bidang dengan desa-desa tetangganya, walaupun wilayah Delta Mahakam sudah dipenuhi oleh tambak udang dan ikan , masyarakat hanya bisa mejual wilayahnya kepada warga luar desa disebabkan karena ketidak mampuan modal dan pengetahuan untuk membuka menjadi tambak. Oleh karena itulah Desa Salo Palai sebagai desa tetua di Kecamatan Muara Badak ini hamper tinggal nama.

 Alhamdulillah sejak adanya Program Pemerintah tentang Alokasi Dana Desa pada tahun 2007, maka sedikit demi sedikit mulai ada perkembangan kembali dengan usaha menggali potensi desa yang tersisa untuk dikembangkan kembali mensejahterakan masyarakatnya, Insyaa Allah Aamiin.

 Tokoh masyarakat Pemimpin Desa Salo Palai sejak tahun 1918 s/d sekarang :

1.        Abd. Samad

2.        Samsu

3.        La Hemma

4.        H. Dandang

5.        H. Taher

6.        Sunusi

7.        Masing

8.        Ismid Sabrie

9.        Muh. Japar, AR

10.     Abd. Rahim

11.     Ishak. R, SH

12.     Nor Asikin

13.     Sadaruddin K

14.     Sadaruddin K

Scroll to Top
Kirim
Butuh Bantuan?
Desa Salo Palai
Selamat Datang di Desa Salo Palai.
Ada yang bisa dibantu?